Read More.. Indra Long: 28 Des 07

28 Desember 2007

Selamat Tahun Baru 2008
"Jadikan Indonesia Sejahtera
dan terbebas dari segala Bencana"

Tewasnya Pemimpin Oposisi Pakistan Benazir Bhutto

Tewasnya Pemimpin Oposisi Pakistan Benazir Bhutto

Benazir Bhutto tewas dalam serangan bom bunuh diri di Karachi, Pakistan (27/12). Peristiwa tersebut berlangsung ketika iring-iringan pendukung Bhutto yang dikawal ketat berupaya menembus ratusan ribu orang yang menyambut kedatangannya dari tempat pengasingan di Emirat Arab dan AS selama 8 tahun.

Menurut sumber resmi Pakistan, ledakan tersebut dilakukan oleh dua orang pelaku bom bunuh diri. Sedangkan menurut kepolisian Pakistan menyebutkan, sesorang meledakkan bom yang dibawa di tengah jalan Karachi yang memang dibanjiri oleh ratusan ribu pendukung Bhutto. Peristiwa tersebut menyebabkan 126 orang menjadi korban sementara lebih dari 500 orang lainnya terluka parah.

Namun penyebab pasti tewasnya kelahiran Karachi, 21 Juni 1953 ini masih simpang siur. Juru bicara kementerian dalam negeri Pakistan Javed Cheema mengatakan, kemungkinan Bhutto terkena pecahan peledak yang disembunyikan pelaku dalam jaketnya. Sementara penasehat keamanan partai tempat Bhutto bernaung mengatakan, bahwa seorang laki-laki bersenjata menembak Bhutto di bagian dada dan leher ketika Bhuto akan masuk ke mobilnya. Setelah menembak Bhutto, pelakunya melekukan bom bunuh diri.

Benazir Bhutto tewas dalam sebuah serangan senjata dan bom bunuh diri, aksi unjuk rasa di kota Rawalpindi, Kamis. Bhutto, 54 tahun, meninggal di rumah sakit di Rawalpindi. Televisi Ary-One melaporkan, Bhutto tertembak di bagian kepala.Polisi mengatakan seorang pelaku bom bunuh diri melepaskan sejumlah tembakan kepada Bhutto saat ia meninggalkan tempat unjuk rasa di sebuah lapangan. Selanjutnya pelaku bom bunuh diri tersebut meledakkan dirinya.

Butho sedianya akan menuju ke arah Mazar Qaed Azham sebagai tempat kelahiran tokoh pendiri Pakisan Muhammad Ali Jenah, tapi setelah tragedi ledakan itu arah iring-iringan Bhutto dialihkan ke wilayah Kalb Town, di Karachi tempat kelahiran Bhutto.


Benazir Bhutto

Adalah perempuan pertama yang memimpin sebuah negara muslim di masa pasca-kolonial. Kelahiran Karachi, 21 Juni 1953 sempat terpilih sebagai Perdana Menteri Pakistan pada tahun 1988, namun baru 20 bulan memimpin digulingkan oleh presiden Ghulam Ishaq Khan yang didukung militer. Tahun 1993, Bhutto kembali terpilih namun baru tiga tahun di tengah-tengah berbagai skandal korupsi oleh presiden Farooq Leghari kembali menggunakan Amandemen ke-8 yang berisikan membubarkan parlemen dan pemilu ulang.

Benazir Bhutto adalah anak sulung dari Perdana Menteri Pakistan yang digulingkan, Zulfikar Ali Bhutto (yang digantung oleh pemerintah militer Pakistan di bawah keadaan yang luar biasa) dan Begum Nusrat Bhutto, seorang suku Kurdi-Iran. Kakek dari pihak ayahnya adalah Sir Shah Nawaz Bhutto, seorang Sindhi dan tokoh penting dalam gerakan kemerdekaan Pakistan.

Bhutto belajar di Taman Kanak-kanak Lady Jennings dan kemudian di Convent of Jesus and Mary di Karachi. Setelah dua tahun belajar di Rawalpindi Presentation Convent, ia dikirim ke Jesus and Mary Convent di Murree. Ia lulus ujian O-level (dalam sistem pendidikan Inggris, setara dengan SMA kelas 1). Pada April 1969, ia diterima di Radcliffe College dari Universitas Harvard. Pada Juni 1973, Benazir lulus dari Harvard dengan gelar dalam ilmu politik. Ia juga terpilih sebagai anggota Phi Beta Kappa. Ia kemudian masuk ke Universitas Oxford pada musim gugur 1973 dan lulus dengan gelar magister dalam Filsafat, Politik dan Ekonomi. Ia terpilih menjadi Presiden dari Oxford Union yang bergengsi.

Setelah menyelesaikan pendidikan universitasnya, ia kembali ke Pakistan, tetapi karena ayahnya dipenjarakan dan kemudian dihukum mati, ia dikenakan tahanan rumah. Setelah diizinkan kembali ke Britania Raya pada 1984, ia menjadi pemimpin Partai Rakyat Pakistan (PPP), partai ayahnya, di pengasingan, namun ia tidak dapat membuat kekuatan politiknya dirasakan di Pakistan hingga matinya Jenderal Muhammad Zia-ul-Haq.
Pada 16 November 1988, dalam sebuah pemilihan umum terbuka pertama dalam waktu lebih dari sepuluh tahun, partai Benazir, PPP, memenangi jumlah kursi terbanyak di Dewan Nasional. Bhutto diambil sumpahnya sebagai Perdana Menteri sebuah pemerintahan koalisi pada 2 Desember, dan pada usia 35 tahun menjadi orang termuda dan juga perempuan pertama yang memimpin sebuah negara dengan mayoritas rakyatnya beragama Islam di zaman modern.

Setelah dipecat oleh presiden Pakistan saat itu dengan tuduhan korupsi, partainya kalah dalam pemilihan umum yang diselenggarakan pada bulan Oktober. Ia menjadi pemimpin oposisi sementara Nawaz Sharif menjadi perdana menteri selama tiga tahun berikutnya. Ketika pemilihan umum Oktober 1993 kembali diadakan, yang dimenangkan oleh koalisi PPP, yang mengembalikan Bhutto ke dalam jabatannya hingga 1996, ketika pemerintahannya sekali lagi dibubarkan atas tuduhan korupsi.

Dalam kampanye-kampanye pemilunya, pemerintahan Bhutto menyuarakan keprihatinan mengenai masalah-masalah sosial kaum perempuan, masalah kesehatan dan diskriminasi terhadap perempuan. Bhutto juga mengumumkan rencana-rencana untuk membentuk stasiun-stasiun polisi perempuan, pengadilan, dan bank-bank pembangunan khusus untuk perempuan.

Meskipun mengumbar janji-janji ini, Bhutto tidak mengusulkan undang-undang apapun untuk memperbaiki kesejahteraan kaum perempuan. Dalam kampanye-kampanyenya, Bhutto berjanji untuk mencabut undang-undang yang kontroversial (seperti misalnya aturan-aturan Hudood dan zinah) yang mengurangi hak-hak kaum perempuan di Pakistan. Namun pada dua masa jabatannya, partainya tidak menggenapi janji-janjinya, karena hebatnya tekanan-tekanan dari pihak oposisi.

Namun partainya memulai legislasi di bawah rezim Jenderal Musharraf untuk menghapuskan peraturan tentang zinah. Usaha-usaha ini dikalahkan oleh partai-partai keagamaan sayap kanan yang mendominasi DPR pada waktu itu.

Pada 2002 Presiden Pakistan yang sekarang, Pervez Musharraf memperkenalkan amandemen terhadap konstitusi Pakistan yang melarang perdana menteri untuk menjabat lebih dari dua masa jabatan. Hal ini mendiskualifikasi Bhutto dari kemungkinan mendapatkan jabatan itu kembali. Langkah yang diambil oleh orang-orang yang kedudukannya rapuh ini, dianggap banyak orang sebagai serangan langsung terhadap bekas perdana menteri Benazir Bhutto dan Nawaz Sharif dan memperlihatkan rasa tidak aman pihak militer tentang kekuatan politiknya sendiri.

Bhutto sejak tahun 1999 tinggal dalam pengasingan di Dubai, Uni Emirat Arab, dan di sana ia mengasuh anak-anaknya dan ibunya, yang menderita penyakit Alzheimer, dan dari situ ia berkeliling dunia untuk memberikan kuliah dan tetap menjaga hubungannya dengan para pendukung Partai Rakyat Pakistan.

Benazir dan ketiga orang anaknya (Bilawal, Bakhtawar and Asifa) dipersatukan kembali bersama suami dan ayah mereka pada Desember 2004 setelah lebih dari lima tahun. Bhutto telah bersumpah untuk kembali ke Pakistan dan mencalonkan diri kembali sebagai Perdana Menteri dalam pemilihan umum yang dijadwalkan untuk November 2007. Pada 18 oktober 2007 ia kembali ke Pakistan untuk mempersiapkan diri mengahadapi pemilu.
>> Dari berbagai sumber.